Sekolah Masih Berlumpur Siswa di Pidie Jaya Belajar dalam Tenda Darurat
Apa Kabar Magelang – Sekolah Masih Berlumpur Siswa Pidie Jaya, Provinsi Aceh, baru saja mengalami bencana banjir besar yang menghantam wilayah tersebut pada Desember 2024 lalu. Dampak dari bencana ini sangat terasa di sektor pendidikan. Ribuan rumah dan fasilitas umum, termasuk sekolah-sekolah, mengalami kerusakan parah. Sekolah-sekolah yang terdampak banjir terendam lumpur dan tidak dapat digunakan, sehingga para siswa terpaksa harus melanjutkan pembelajaran mereka di tenda-tenda darurat.
Di Kecamatan Mutiara, salah satu daerah yang terparah terkena dampak, lebih dari sebelas sekolah rusak berat akibat banjir. Beberapa sekolah bahkan terendam lebih dari satu meter oleh air, meninggalkan lantai dan ruang kelas yang dipenuhi lumpur dan sampah. Walaupun proses pembersihan sudah dilakukan, namun proses perbaikan infrastruktur sekolah memerlukan waktu yang cukup panjang.
Sekolah Masih Berlumpur Siswa Belajar di Tenda Darurat: Tantangan Besar bagi Siswa dan Guru
Sebagai upaya untuk tetap melanjutkan kegiatan belajar mengajar, pihak Dinas Pendidikan Pidie Jaya memutuskan untuk menyelenggarakan pendidikan di tenda-tenda darurat yang didirikan di area sekitar sekolah. Meskipun keadaan yang sangat tidak ideal, ribuan siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD hingga SMA, tetap semangat mengikuti pelajaran meskipun dalam kondisi yang jauh dari kenyamanan.
Salah seorang siswa SMA di SMAN 1 Mutiara, Riza (17), mengungkapkan pengalamannya belajar di tenda. “Belajar di tenda itu tidak mudah. Tenda kami penuh sesak, panas, dan sering hujan. Tapi, kami tetap berusaha untuk tetap belajar. Kami sadar pendidikan itu penting, meskipun kondisi seperti ini,” ujar Riza, yang juga mengungkapkan bahwa banyak temannya yang kesulitan untuk membawa buku dan perlengkapan belajar lainnya karena rumah mereka juga terendam banjir.
Tidak hanya siswa, guru-guru di Pidie Jaya juga menghadapi tantangan besar. Salah seorang guru di SDN 2 Mutiara, Ibu Nur, mengungkapkan rasa prihatin dengan kondisi ini. “Saya harus mengajar di bawah tenda yang sempit, tidak ada papan tulis yang memadai, dan cahaya matahari yang kurang. Tapi, kami semua berusaha semaksimal mungkin agar anak-anak tetap mendapatkan pendidikan. Kami berharap keadaan segera membaik,” katanya.
Baca Juga: Kemlu Pastikan WNI Aman Usai AS Serang Venezuela
Peran Tenda Darurat dalam Pendidikan
Tenda-tenda darurat yang disiapkan oleh pemerintah daerah dan berbagai lembaga terkait merupakan solusi sementara untuk memastikan agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan mereka meskipun dalam kondisi darurat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dengan Dinas Pendidikan Pidie Jaya mendirikan lebih dari 20 tenda yang digunakan sebagai ruang kelas darurat di berbagai wilayah yang terdampak.
Namun, meskipun tenda-tenda ini cukup efektif dalam mendukung kelangsungan proses belajar mengajar, masih banyak keterbatasan yang dihadapi. Tidak adanya meja dan kursi yang memadai membuat para siswa harus duduk di tanah, dan seringkali mereka kesulitan fokus akibat suara bising dan angin yang bertiup kencang.
Pembersihan dan Perbaikan Infrastruktur Sekolah
Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Pidie Jaya bersama dengan pihak terkait terus melakukan pembersihan sekolah-sekolah yang terdampak banjir. Namun, perbaikan yang lebih besar dan menyeluruh membutuhkan waktu lebih lama. Banyak sekolah yang mengalami kerusakan pada fasilitas penting seperti laboratorium, perpustakaan, dan toilet, yang menjadikannya sulit untuk segera digunakan kembali.
Kami sedang melakukan upaya maksimal untuk memperbaiki sekolah-sekolah yang rusak dan mengembalikan fasilitas pendidikan seperti sedia kala. Kami juga bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk mengatasi masalah ini,” kata Bupati Irwan.






