Dior Dior Dior
Berita  

Dari Garda Bencana ke Sekolah Rakyat Cerita Pengabdian Seorang Tagana

Dari Garda Bencana
Dior

Dari Garda Bencana ke Sekolah Rakyat: Cerita Pengabdian Seorang Tagana

Apa Kabar Magelang – Dari Garda Bencana Menjadi seorang Tagana (Taruna Siaga Bencana) bukanlah sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan hati untuk mereka yang memiliki semangat mengabdi di saat-saat sulit, dan berjuang untuk kebaikan sesama. Salah satu kisah inspiratif datang dari Rizky Anwar, seorang Tagana yang telah mengabdikan dirinya untuk masyarakat, tidak hanya dalam menghadapi bencana, tetapi juga di sekolah-sekolah rakyat. Rizky mengisahkan perjalanan panjangnya dari seorang petugas siaga bencana menjadi figur yang mengedukasi anak-anak dan masyarakat mengenai pentingnya siaga bencana dan kesiapsiagaan komunitas.

Menjadi Bagian dari Garda Bencana

Rizky mengawali perjalanan pengabdiannya sebagai Tagana pada tahun 2015, setelah melihat banyaknya bencana alam yang menimpa Indonesia, terutama yang berdampak besar pada kehidupan masyarakat. Dari gempa bumi di Palu, tsunami di Aceh, hingga banjir yang melanda berbagai daerah, Rizky merasa panggilan hatinya untuk membantu sesama semakin kuat. Keputusannya untuk bergabung dengan Tagana di bawah Kementerian Sosial Republik Indonesia tidak hanya didorong oleh rasa ingin membantu, tetapi juga keinginannya untuk belajar langsung bagaimana cara bertindak dalam situasi darurat.

Dior

Tagana itu bukan hanya tentang penanganan bencana, tetapi juga tentang membekali masyarakat dengan pengetahuan agar mereka bisa menjaga diri sendiri saat bencana datang,” ungkap Rizky saat berbicara tentang awal karirnya sebagai bagian dari Garda Bencana.Dari Garda Bencana ke Sekolah Rakyat, Cerita Pengabdian Seorang Tagana

Baca Juga: Suasana Perayaan Natal di Palestina Lebanon dan Suriah

Pengalaman di Lapangan: Menjadi Relawan di Tengah Bencana

Salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi Rizky adalah saat ia terlibat dalam penanganan bencana gempa dan tsunami di Palu pada 2018. Di tengah situasi yang kacau, dengan banyaknya pengungsi dan kerusakan infrastruktur, Rizky bersama timnya melakukan evakuasi, pendistribusian bantuan, dan pemulihan trauma bagi para korban. Meskipun kondisi sangat berat, Rizky dan rekannya terus bekerja tanpa lelah untuk memastikan bantuan sampai kepada yang membutuhkan.

“Saat bencana terjadi, masyarakat membutuhkan bantuan fisik, tetapi yang tidak kalah penting adalah bantuan psikologis. Banyak orang yang kehilangan rumah, keluarga, dan segalanya.

Di tengah kerja kerasnya di lapangan, Rizky menemukan betapa pentingnya pendidikan kesiapsiagaan bencana. Ia menyadari bahwa banyak dari masyarakat, terutama anak-anak, yang belum memiliki pengetahuan dasar tentang bagaimana bertindak jika bencana terjadi. Inilah yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menangani bencana saat itu juga.

Dari Bencana ke Pendidikan: Menyentuh Hati Anak-Anak dengan Ilmu Siaga Bencana

Setelah beberapa tahun bertugas sebagai Tagana dan menyaksikan dampak bencana terhadap masyarakat, Rizky merasa bahwa perubahan sesungguhnya harus dimulai dari pendidikan sejak dini. Ia mulai terlibat dalam berbagai program edukasi bencana di sekolah-sekolah, termasuk yang tergolong sekolah rakyat atau sekolah-sekolah yang berada di daerah-daerah kurang berkembang, yang rawan terkena dampak bencana alam.

Di sana, Rizky mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana—sebuah pelajaran yang belum banyak diajarkan di banyak sekolah, tetapi sangat penting bagi masa depan mereka. Program ini meliputi pengetahuan dasar tentang evakuasi, penggunaan alat pertolongan pertama, serta cara-cara untuk melindungi diri dari ancaman bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, dan longsor.

“Kami mengajak anak-anak untuk belajar sambil bermain. Misalnya, kami membuat simulasi evakuasi dan mengajarkan mereka tentang bagaimana berkomunikasi saat ada bencana. Mengedukasi mereka sejak dini akan sangat membantu dalam mengurangi risiko bencana di masa depan,” jelas Rizky.

Membangun Kesiapsiagaan Komunitas di Sekolah Rakyat

Selain mengajarkan anak-anak, Rizky juga melibatkan orang tua dan guru dalam program edukasi ini. Ia sadar bahwa untuk membangun kesiapsiagaan yang efektif, peran serta orang tua dan pihak sekolah sangatlah penting. Dengan bekerja sama, mereka bisa menciptakan lingkungan yang lebih siap menghadapi bencana.

Rizky pun berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pendidikan, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), serta organisasi kemanusiaan untuk memperluas program ini.

Dari Garda Bencana Pentingnya Pengabdian Sosial dan Kepedulian Bersama

Bagi Rizky, pengabdian ini tidak hanya soal tugas, melainkan tentang tanggung jawab sosial untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh. Ia percaya bahwa pendidikan tentang bencana tidak hanya bisa menyelamatkan nyawa, tetapi juga membantu masyarakat untuk pulih lebih cepat dan lebih mandiri setelah bencana.

Di luar pekerjaannya sebagai Tagana, Rizky juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, seperti pelatihan kesiapsiagaan bencana untuk masyarakat dan menjadi pembicara dalam seminar-seminar tentang penanggulangan bencana.

Masa Depan yang Tangguh dan Siaga

“Perjalanan saya di Tagana ini mengajarkan saya banyak hal. Bukan hanya tentang menghadapi bencana, tetapi juga tentang berbuat baik untuk sesama. Semoga apa yang saya lakukan bisa memberikan manfaat bagi banyak orang, dan kita semua bisa menjadi lebih siap menghadapi apapun yang terjadi di masa depan,” tutup Rizky, penuh harapan.

Dior